Categories
Uncategorized

Aturan Mengenai Qurban Dalam Pandangan Islam

Aturan Perihal Qurban

Hallo, punya usaha ternakan kambing ? kali ini akan mengupas mengenai tata tertib tentang Qurban, yang pastinya ini cukup sungguh-sungguh penting di pelajari sekiranya suatu saat kita mempunyai calon konsumen yang berkeinginan membeli binatang qurban lalu konsumen bertanya-tanya tentang tata tertib qurban itu sendiri seperti apa.
Seandainya anda seorang pemilik usaha ternak kambing mulai saat ini coba anda pelajari mengenai hal seperti ini, anda dapat mempelajari dari tokoh agama di sekitar anda atau anda juga dapat ikut Pelatihan Ternak Kambing, kini sudah banyak pelatihan ternak kambing yang membuka workshop nya dan salahsatu nya mungkin akan di bahas tentang tata tertib Qurban.
Berikut ini akan disebutkan beberapa tata tertib secara umum yang berhubungan dengan binatang qurban, untuk melengkapi pembahasan sebelumnya:
1) Menurut pendapat yang rajih, binatang qurban dinyatakan resmi (ta’yin) sebagai أُضْحِيَّةٌ dengan dua hal:
a. Dengan ucapan: هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ (Binatang ini ialah binatang qurban)
b. Dengan perbuatan, dan ini dengan dua sistem:

  1. Taqlid ialah diikatnya sandal/sepatu binatang, potongan-potongan qirbah (tempat air yang menggantung), pakaian lusuh dan yang semisalnya pada leher binatang. Ini berlaku untuk unta, sapi dan kambing.
  2. Isy’ar ialah disobeknya punuk unta/sapi sehingga darahnya mengalir pada rambutnya. Ini hanya berlaku untuk unta dan sapi saja.
    Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
    فَتَلْتُ قَلاَئِدَ بُدْنِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ ثُمَّ أَشْعَرَهَا وَقَلَّدَهَا
    “Aku memintal ikatan-ikatan unta-unta Rasulullah dengan kedua tanganku. Lalu beliau isy’ar dan men-taqlid-nya.” (HR. Al-Bukhari no. 1699 dan Muslim no. 1321/362)
    Kedua perbuatan ini khusus pada binatang hadyu, meskipun qurban cukup dengan ucapan. Adapun semata-mata membelinya atau hanya meniatkan tanpa adanya lafadz, maka belum dinyatakan (ta’yin) sebagai binatang qurban. Berikut ini akan disebutkan beberapa tata tertib sekiranya binatang hal yang demikian sudah di-ta’yin sebagai binatang qurban:
    2) Diizinkan menunggangi binatang hal yang demikian sekiranya dibutuhkan atau tanpa keperluan, selama tak memudaratkannya.
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan seseorang memberi arahan unta (qurban/hadyu) maka beliau bersabda:
    ارْكَبْهَا
    “Tunggangi unta itu.” (HR. Al-Bukhari no. 1689 dan Muslim no. 1322/3717)
    Juga datang dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (Al-Bukhari no. 1690 dan Muslim no. 1323) dan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma (HR. Muslim no. 1324). Lafadz hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:
    ارْكَبْهَا بِالْمَعْرُوْفِ إِذَا أُلْجِئْتَ إِلَيْهَا حَتَّى تَجِدَ ظَهْرًا
    “Naikilah unta itu dengan sistem yang baik sekiranya engkau membutuhkannya hingga engkau mendapatkan tunggangan (lain).”
    3) Diizinkan mengambil kemanfaatan dari binatang hal yang demikian sebelum/sesudah disembelih kecuali menungganginya, seperti:
    a. mencukur bulu binatang hal yang demikian, sekiranya hal hal yang demikian lebih berkhasiat bagi sang binatang. Misal: bulunya terlalu tebal atau di badannya ada luka.
    b. Meminum susunya, dengan ketentuan tak memudaratkan binatang hal yang demikian dan susu itu kelebihan dari keperluan si kecil sang binatang.
    c. Memanfaatkan semua sesuatu yang ada di badan sang binatang, seperti tali kekang dan pelana.
    d. Memanfaatkan kulitnya untuk alas duduk atau alas sholat sesudah disamak.
    Dan berbagai sisi kemanfaatan yang lainnya. Dasarnya ialah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌ
    “Dan sudah Kami jadikan untuk kau unta-unta itu beberapa dari syi’ar Allah, kau mendapatkan kebaikan yang banyak padanya.” (Al-Hajj: 36)
    4) Tak dibiarkan menjual binatang hal yang demikian atau menghibahkannya kecuali sekiranya berkeinginan menggantinya dengan binatang yang lebih baik. Demikian pula tak boleh menyedekahkannya kecuali sesudah disembelih pada waktunya, lalu menyedekahkan dagingnya.
    5) Tak dibiarkan menjual kulit binatang hal yang demikian atau apa saja yang ada padanya, melainkan untuk dishadaqahkan atau dimanfaatkan.
    6) Tak dibiarkan memberikan bayaran dari binatang hal yang demikian apa saja formatnya terhadap tukang sembelih. Namun sekiranya diberikan dalam wujud uang atau beberapa dari binatang hal yang demikian sebagai shadaqah atau hadiah bukan sebagai bayaran, maka dibiarkan.
    Berikut ada arti dari salah satu dalil :“Nabi memerintahkan saya untuk menangani (penyembelihan) unta-untanya, membagikan dagingnya, kulit, dan perangkatnya terhadap orang-orang miskin dan tak memberikan sesuatu bahkan darinya sebagai (bayaran) penyembelihannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1717 dan 1317)
    7) Seandainya terjadi cacat pada binatang hal yang demikian sesudah di-ta’yin (dilegalkan sebagai binatang qurban) maka dirinci:
  • Seandainya cacatnya membikin binatang hal yang demikian tak resmi, maka disembelih sebagai shadaqah bukan sebagai qurban yang syar’i.
  • Seandainya cacatnya ringan maka tak ada keadaan sulit.
  • Seandainya cacatnya terjadi akibat (perbuatan) sang pemilik maka ia seharusnya mengganti yang umpamanya atau yang lebih baik
  • Seandainya cacatnya bukan sebab kekeliruan sang pemilik, maka tak ada keharusan mengganti, sebab tata tertib asal berqurban ialah sunnah.
    8) Seandainya binatang hal yang demikian hilang atau lari dan tak ditemukan, atau dicuri, maka tak ada keharusan apa-apa atas sang pemilik. Selain sekiranya hal itu terjadi sebab kesalahannya maka ia seharusnya menggantinya.
    9) Seandainya binatang yang lari atau yang hilang hal yang demikian ditemukan, meskipun sang pemilik sudah membeli gantinya dan menyembelihnya, maka cukup bagi ia binatang ganti hal yang demikian sebagi qurban. Padahal binatang yang ketemu hal yang demikian tak boleh dijual melainkan disembelih, sebab binatang hal yang demikian sudah di-ta’yin.
    10) Seandainya binatang hal yang demikian mengandung bayi dalam kandungan, maka cukup bagi ia menyembelih ibunya untuk menghalalkannya dan janinnya. Namun sekiranya binatang hal yang demikian sudah melahirkan sebelum disembelih, maka ia sembelih ibu dan janinnya sebagai qurban. Dalilnya ialah hadits:
    ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
    “Sembelihan bayi dalam kandungan (cukup) dengan sembelihan ibunya.”
    Hadits ini datang dari banyak sahabat, lihat perinciannya dalam Irwa`ul Ghalil (8/172, no. 2539) dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya.
    11) Adapun sekiranya binatang hal yang demikian belum di-ta’yin maka dibiarkan baginya untuk menjualnya, menghibahkannya, menyedekahkannya, atau menyembelihnya untuk diambil daging dan lainnya, layaknya binatang umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *