Categories
Uncategorized

wisata menarik di Lasem

Saya cerita ulang lagi ya, sedikit tentang Lasem, kota kecil di utara Jawa. Tidak tidak sering orang yang masih suka bertanya:“ Lasem itu dimana?”. Umumnya sembari bercanda saya hendak bilang,“ Berangkat ke Rembang serta terus susuri jalan pantura. Jika telah memandang banyak ladang garam, jangan coba berkedip sebab tidak lama lagi kalian hendak datang di Lasem.”

Lasem memanglah ialah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, dekat 12 kilometer dari pusat Kota Rembang. Dengan luas daerah 4. 504 ha, di mana 505 ha buat pemukiman, 281 ha lahan tambak, serta 624 ha hutan kepunyaan negeri. Tidak sangat luas, tetapi Lasem menawarkan wisata yang berbeda.

Jadi terdapat apa lagi saja di Lasem? Ini ia list lanjutan tempat- tempat yang saya kunjungi di Lasem kemarin:

Rumah Pabrik Tegel

Dikala berkunjung ke rumah- rumah tua di Lasem, saya senantiasa mencermati tegelnya yang unik. Tua, tetapi menawan. Warnanya, inilah sumber asal tegel- tegel itu. Dari suatu pabrik tegel yang memanglah terletak di Lasem.

Rumah Tegel Lasem dahulu sangat populer serta mengirimkan tegel- tegelnya ke daerah Rembang, Juwana, Pati, Blora, Semarang, Kudus, sampai Surabaya. Sayangnya, saat ini pabrik tegel ini telah tidak lagi memproduksi tegel- tegel menawan lagi. Walaupun begitu, mesin yang dihadirkan dari Leipzig buat membuat tegel- tegel menawan itu masih dapat kita temukan di mari. Lucunya,

walaupun nama pabrik ini merupakan Pabrik Lie Thiam Kwie, tetapi nama merk dagangnya merupakan LZ yang ialah nama mesin yang digunakan.

Rumah Tante Farida

Ini ia alibi mengapa hendaknya memakai jasa tour guide lokal dikala di Lasem. Berkat didampingi Mas Pop, saya jadi berkesempatan mendatangi sebagian rumah masyarakat, salah satunya Bunda Farida. Dikala saya tiba, tante berparas menawan ini kebetulan lagi menerima tamu.

Sembari menunggu, saya juga memandang sekitar rumah, suatu rumah tradisional Cina Lasem yang lagi- lagi umurnya telah ratusan tahun. Yang diucap dengan rumah Tradisional Cina Lasem biasanya mempunyai gerbang memanjang, beranda utama yang mengadopsi kebudayaan Jawa, rumah utama, serta bangunan di samping rumah utama.

Usai menerima tamunya, Tante Farida juga mengajak kami mengobrol. Tante Farida saat ini cuma tinggal seseorang diri serta lebih aman terletak di bagian samping rumah daripada rumah utama. Rumah utama cuma dia bilas, tidak dia tempati dengan alibi khawatir. Usut memiliki usut, tamu yang tadinya tiba merupakan calon pembeli rumah. Bila dapat, Tante Farida mau tinggal bersama anak- anaknya saja.

Sekilas memanglah terasa lebih baik sih. Tetapi yang buat saya pilu, biasanya pembeli rumah- rumah tua di Lasem cuma mau mengambil kayu jati yang jadi fondasi rumah serta tegel tuanya. Sehabis itu umumnya rumah dibiarkan berhamburan begitu saja. Pilu ya?

Cu An Kiong

Kelenteng Cu An Kiong bukan saja Kelenteng tertua di Lasem, tetapi diperkirakan pula yang tertua di Pulau Jawa. Kelenteng ini diperkirakan dibentuk dekat abad ke- 16 oleh orang- orang Tiongkok yang berlabuh di Lasem. Uniknya material bangunan tidak memakai kayu pada kapal yang memanglah universal digunakan buat membangun kelenteng pada masa itu, tetapi malah memakai kayu jati yang banyak berkembang di Lasem.

Kelenteng ini terletak di Jalur Dasun nomor 19, Desa Soditan. Cu An Kion ialah Kelenteng dengan dewa utamanya merupakan Dewi Samudra. Tidak terdapat yang ketahui tentu kapan persisnya kelenteng ini dibentuk, tetapi sebagian inskripsi mengatakan kalau kelenteng Cu An Kion dipugar pada tahun 1838. Jadi, telah tentu bangunan kelenteng ini terdapat jauh saat sebelum tahun itu.

Lawang Ombo

Lawang Ombo yang berarti pintu besar pula diketahui bagaikan rumah candu. Terletak di jalur Sunan Bonang, Desa Soditan, letak rumah ini memanglah tidak jauh dari Sungai Lasem. Tidak heran apabila di dalam rumah ini ada suatu lubang yang tersambung dengan sungai yang dulu digunakan buat menyelundupkan candu.

Sektiar abad ke- 19 perdagangan candu memanglah lumayan ramai. Candu memanglah sering kali disantap oleh kalangan rakyat jelata sampai kalangan ningrat. Namum, kala Belanda masuk ke Indonesia, candu jadi perihal terlarang. Itu sebabnya benda ini didistribusikan secara sembunyi- sembunyi.

Tepi laut Caruban

Lasem pula mempunyai wisata tepi laut mengingat lokasinya terletak di jalan Tepi laut Utara Pulau Jawa. Salah satunya merupakan Tepi laut Caruban yang katanya ialah tepi laut sangat hits di Lasem. Sesungguhnya kunjungan saya ke tepi laut ini tidak terencana. Yang sesungguhnya kami incar merupakan ladang garam yang terletak tidak jauh dari posisi tepi laut ini.

Iya, bagaikan kota di pinggir tepi laut, garam jadi komoditi utama untuk masyarakat Lasem. Menikmati senja di ladang garam serta di tepi laut dapat jadi alternatif wisata dikala berkunjung ke Lasem. Terlebih apabila kalian mulai merasa letih menikmati wisata sejarah yang biasanya ditawarkan di Lasem.

Rumah Opa

Lo Geng Gwan, nama penunggu rumah yang terletak di Jalur Karangturi IV. Kala saya berkunjung 5 tahun kemudian, Opa, begitu panggilannya, masih tinggal bersama Sri Khalawati Gunawan, alias Oma, yang ialah adik kandungnya. Tidak hanya Opa, masih terdapat Mbak Minuk, asisten rumah tangga di rumah ini.

Rumah Opa acapkali jadi salah satu tujuan yang diagendakan oleh Mas Pop dikala di Lasem. Rumah yang diperkirakan berumur 300 tahun ini telah turun temurun kepunyaan keluarga Opa. Keadaan rumahnya sendiri saat ini bisa jadi telah kurang terpelihara, tetapi bukan berarti tidak menarik buat didatangi. Salah satu momen yang saya suka merupakan bercakap- cakap dengan Opa yang saat ini telah berumur 90- an.

Tumbuhan Trembesi

Spot terakhir yang didatangi saat sebelum kembali merupakan mendatangi tumbuhan trembesi. Tumbuhan raksasa ini saat ini jadi salah satu spot kesukaan di Lasem.

Tipe tumbuhan trembesi memanglah populer hendak berdimensi besar dan cabang serta ranting yang banyak. Di Lasem terdapat sebagian tumbuhan trembesi, tetapi tumbuhan trembesi Raksasa yang terlekat di Desa Karasjajar ini memanglah nampak sangat juara.

Tidak hanya tumbuhan trembesi, yang menarik di tempat ini merupakan tempat bekerja pembatik dari Rumah Batik Pusaka Beruang. Konon, tidak tidak sering diselenggarakan sebagian kegiatan di tempat ini. Hmmm, menarik sekali kan ya?

3 hari 2 malam di Lasem saya pikir hendak menyembuhkan rasa rindu. Tetapi nyatanya, kali ini saya salah. Saya malah terus menjadi rindu. Masih banyak yang dapat di explore dari Lasem. Untuk kamu yang ingin ke Lasem, sekali lagi saya sarankan buat memakai jasa tour guide lokal ya. Supaya puas blusukan- nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *